8. Nov, 2017

Bakat

Sering terdengar sentilan-sentilan seperti ” Si A berhasil dalam musik karena punya bakat musik” atau “Si B sukses dalam bisnis karena punya bakat bisnis”
Tidak salah kalau kita mengiyakan sentilan diatas dan tidak salah juga kalau kita menggaris bawahi bahwa Bakat bukan merupakan porsi yang besar bagi terwujudnya kesuksesan seseorang.
Bakat adalah salah satu “bekal” diantara “bekal-bekal” lainnya yang dikaruniai oleh Allah SWT sang pencipta untuk mengarungi hidup di dunia.
Kalau boleh saya ibaratkan, bakat bagaikan “cairan kental/ jel yang akan berubah bentuk sepanjang usia manusia” yang sangat membutuhkan wadah pembentuk. Dimana material wadah pembentuk bersumber dari lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan lingkungan sekolah.
“Wadah” diatas dituntut harus mempunyai kualitas yang baik agar bakat yang dihasilkan mempunyai bentuk yang Elok, Enak dipandang, Halus ditangan, Kokoh dan Harum semerbak dan saat wadah cetakannya dilepas (manusia tersebut meninggal) masih meninggalkan aroma keharuman yang sejati (dikenang).
Dalam pencapaian bentuk wadah dengan kualitas baik maka bekal-bekal lainnya seperti, mata, telinga, otak dan organ vital lainnya harus difungsikan untuk mendukung pembentukan wadah tersebut.
Mata digunakan untuk membaca ilmu dari literatur buku-buku yang baik dan melihat fenomena alam semesta,
Telinga digunakan untuk mendengar pembicaraan-pembicaraan yang berkualitas, positif dan motivatif,
Otak digunakan untuk mencerna, menganalisa dan merumuskan informasi-informasi dari sumbangsih mata dan telinga,
Hati atau jiwa digunakan untuk mengimbangi/ mengontrol produk hasil dari otak atau pemikiran,
Produk dari Otak dan Hati inilah yang memberikan ciri dan kualitas langsung dari “wadah” pembentuk bakat,
Jadi sentilan-sentilan diatas sebenarnya adalah buah dari bakat yang sudah memberikan bentuk.
Beberapa hal yang bisa dipersiapkan dan dikondisikan agar kata-kata “si A atau si B” diganti dengan nama kita, yaitu:
1. Bentuk atau kondisikan lingkungan keluarga yang memberikan kebebasan dan dukungan munculnya embrio bakat dari anggota keluarga, peran orang tua sangat menentukan
2. Cari lingkungan masyarakat yang kondusif dengan bakat kita, misalnya ikut komunitas pengusaha bagi yang punya bakat pengusaha
3. Cari lingkungan sekolah yang mau bekerjasama untuk pengembangan bakat siswanya, misalnya ikut extrakulikuler melukis bagi siswa yang berbakat melukis
Semoga uraian singkat ini memberikan alur pemahaman dan langkah yang runtut mengenai apa itu Bakat